Keamanan Website untuk E-Commerce: Tips dan Solusi 

Saatnya Anda berkolaborasi dengan kami!

Hubungi Kami

Keamanan Website untuk E-Commerce: Tips dan Solusi 

Keamanan situs web e-commerce sangat penting untuk memastikan kelancaran operasi dan kenyamanan pelanggan. Jutaan transaksi dilakukan setiap hari melalui platform e-commerce, membuatnya pilihan utama bagi pelanggan yang menginginkan kemudahan berbelanja online. Namun, ada ancaman siber yang terus-menerus di balik kenyamanan tersebut. Serangan DDoS, phising, dan pencurian data kartu kredit adalah jenis serangan yang sering menargetkan situs web ini. Terlepas dari fakta bahwa e-commerce telah mengubah cara pengguna berbelanja dan memungkinkan Pengguna untuk mengakses berbagai barang dan jasa, ancaman seperti peretasan, pencurian identitas, dan serangan ransomware semakin meningkat, yang dapat menyebabkan kerugian besar bagi bisnis maupun pelanggan.

 

Apa saja Ancaman-Ancaman Yang Ada Di Toko Online

  1. E-skimming
    E-skimming juga dikenal sebagai serangan Magecart, adalah serangan siber canggih yang menargetkan toko online dengan memasukkan kode berbahaya ke halaman pembayaran situs web untuk mencuri informasi pelanggan seperti nomor kartu kredit dan data sensitif lainnya. Serangan ini seringkali tidak terlihat oleh pelanggan karena kode berbahaya tidak mengubah tampilan halaman pembayaran, membuat pelanggan merasa aman saat mereka melakukan pembayaran. Data yang dicuri kemudian dijual di dark web, menyebabkan perusahaan dan pelanggan mengalami kerugian besar.
    Berikut ini contoh Serangan e-skimming juga terjadi di Indonesia, tetapi tidak sebanyak di negara lain. Berikut adalah beberapa contoh serangan siber yang berkaitan dengan e-skimming atau penipuan pembayaran online yang dapat dijadikan referensi:
    Kasus Pembobolan Data Tokopedia (2020): Tokopedia lebih sering dikaitkan dengan kebocoran data pengguna, tetapi itu menjadi salah satu situs web terkemuka di Indonesia yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga data pribadi. Data jutaan pengguna, termasuk informasi pembayaran, bocor dan diperdagangkan di dark web selama insiden ini. Meskipun bukan e-skimming langsung, serangan ini terkait erat dengan kemungkinan pencurian data melalui teknik serangan lainnya yang digunakan oleh peretas.
    Kasus Kebocoran Data Bukalapak (2019): Meskipun kasus tersebut lebih banyak berfokus pada kebocoran data pengguna, Bukalapak juga menjadi korban serangan siber yang mengakibatkan pencurian data pengguna. Data pribadi yang bocor dalam kasus ini dapat digunakan oleh pihak ketiga untuk melakukan transaksi tanpa izin atau bahkan melakukan serangan lebih lanjut seperti e-skimming.
    Serangan siber seperti ini semakin menjadi perhatian di Indonesia, terutama untuk platform e-commerce yang menyimpan data pembayaran pelanggan. Oleh karena itu, menjaga keamanan pembayaran dan data sangat penting.

  2. Penipuan Keuangan 
    Salah satu bahaya terbesar bagi bisnis e-commerce adalah penipuan keuangan. Peretas atau pelaku penipuan dapat melakukan transaksi yang tidak sah dalam situasi ini dengan menggunakan metode yang canggih dan sulit dideteksi. Mereka sering berhasil mengambil informasi kartu kredit atau metode pembayaran lainnya untuk melakukan pembelian tanpa izin, menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar. Peretas dapat dengan mudah menghilangkan bukti transaksi, yang sulit bagi perusahaan untuk menemukan dan memulihkan kerugian.
    Selain itu, pelaku sering menggunakan strategi pengembalian dana palsu untuk melakukan penipuan. Dalam hal ini, pelanggan atau pihak yang tidak bertanggung jawab meminta pengembalian dana untuk barang yang diperoleh secara ilegal atau yang sudah rusak. Dalam beberapa kasus, pelanggan mungkin mengklaim bahwa barang yang mereka terima tidak sesuai dengan deskripsi atau rusak, tetapi sebenarnya mereka sudah menggunakan barang tersebut dan kemudian mengembalikannya untuk. Modus ini sangat tidak menguntungkan karena merusak kepercayaan pelanggan dan mengancam keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
    Bisnis e-commerce harus memantau setiap transaksi dengan ketat dan menggunakan sistem deteksi penipuan untuk menemukan perilaku yang mencurigakan. Selain itu, perusahaan harus memiliki kebijakan pengembalian barang yang jelas dan melakukan verifikasi menyeluruh sebelum dana dikembalikan untuk mencegah penipuan.

  3. Serangan Ransomware
    Serangan ransomware adalah serangan siber di mana peretas mengenkripsi data korban dan kemudian meminta uang sebagai tebusan untuk membuka kunci data yang terinfeksi. Serangan ini sangat berbahaya dalam industri e-commerce karena dapat menghentikan operasi secara menyeluruh. Jika data penting seperti informasi pelanggan, transaksi, atau stok produk tidak dapat diakses, layanan pelanggan dan transaksi dapat terganggu. Selain itu, reputasi perusahaan dapat rusak secara permanen, menghilangkan kepercayaan konsumen, dan, tentu saja, mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan karena downtime dan biaya pemulihan.

  4. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service)
    Sebaliknya, serangan DDoS (Distributed Denial of Service) bertujuan untuk membuat pengguna tidak dapat mengakses situs web atau layanan online. Ini dilakukan dengan membanjiri server situs web dengan lalu lintas yang sangat besar. Akibatnya, sistem kewalahan dan tidak dapat menangani permintaan yang dikirim oleh pengguna. Serangan ini dalam e-commerce dapat terjadi pada saat-saat yang paling tidak menyenangkan, seperti saat produk baru dipromosikan atau diluncurkan. Karena waktu yang lama yang dibutuhkan untuk memulihkan situs web yang terdampak, penjualan yang hilang, pelanggan yang tidak puas, dan kerugian besar lainnya bagi bisnis yang terkena dampak serangan ini.

  5. Eksekusi Kode Jarak Jauh (RCL)
    RCL merupakan jenis serangan di mana peretas dapat mengendalikan sistem dari jarak jauh dengan menjalankan kode berbahaya langsung di server Anda. 
    Peretas dapat dengan mudah menanamkan kode mereka jika situs Anda tidak memiliki kontrol dan validasi yang ketat untuk mencegah eksekusi kode. Ini terjadi ketika peretas menggunakan celah dalam kode Anda, biasanya melalui panel admin atau formulir yang menerima input. 
    Pengembang harus memastikan bahwa tidak ada bagian dari kode aplikasi yang memungkinkan eksekusi kode lainnya tanpa pengecekan yang ketat untuk mencegah serangan ini. Sangat penting untuk mematuhi peraturan pengkodean yang aman dan menggunakan pustaka yang terpercaya dalam hal ini. 
    Meskipun serangan RCE jarang terjadi di toko online, panel admin tetap rentan. Pastikan standar keamanan dipenuhi dan akses ke panel admin dilindungi dengan kata sandi yang kuat. Selain itu, membatasi akses ke area sensitif situs web dengan meminta pengguna untuk login melalui VPN perusahaan dapat membantu mengurangi potensi ancaman eksternal.

  6. CROSS-SITE SCRIPTING (XSS)
    Salah satu jenis serangan siber yang paling umum adalah cross-site scripting (XSS). Dalam serangan ini, penyerang memasukkan kode berbahaya ke halaman web situs e-commerce Anda, biasanya JavaScript. Ketika halaman tersebut dibuka oleh browser, kode tersebut dijalankan seolah-olah itu adalah skrip asli. Skrip ini dapat mengumpulkan data seperti cookie, yang memungkinkan peretas menyamar dan mengakses akun pelanggan. Penyerang dapat mendapatkan data sensitif dengan cara ini dan juga memungkinkan serangan tambahan, seperti pemasangan malware atau phising. Serangan XSS tidak merusak situs e-commerce secara langsung, tetapi berdampak lebih besar pada hubungan pelanggan karena data pelanggan dapat dicuri.

  7. SQL Injection 
    SQL Injection adalah bahaya besar yang dapat berdampak pada situs atau aplikasi berbasis web yang menggunakan database SQL. Jenis serangan ini dapat terjadi pada platform e-commerce, yang menyimpan data pelanggan dalam database SQL. Penyerang menggunakan SQL injection untuk memasukkan kode SQL berbahaya ke dalam input yang terlihat seperti asli. Setelah query ini diproses oleh server, penyerang dapat mengakses database untuk melihat, menghapus data pribadi, atau bahkan membuat akun administrator untuk mengontrol sistem e-commerce secara keseluruhan. Serangan ini memiliki kemampuan untuk menciptakan celah keamanan yang signifikan, yang memungkinkan peretas mengontrol backend dan merusak integritas sistem.
     

Tips dan Trik Untuk Menghadapi Ancaman-Ancaman Tersebut    

  1. Perkuat dengan Perlindungan DDoS dan Firewall Aplikasi  
    Banyak pengguna sehari-hari mengakses situs e-commerce, yang dapat menjadi sasaran serangan DDoS (Distributed Denial of Service). Serangan seperti ini dapat menyebabkan situs menjadi tidak dapat diakses selama berhari-hari, yang merugikan. Oleh karena itu, menggunakan aplikasi penangkal DDoS sangat penting untuk melindungi situs web Anda. Untuk menghindari serangan berbahaya seperti SQL Injection dan Cross-Site Scripting (XSS), sangat disarankan untuk menggunakan firewall aplikasi. Tingkat keamanan situs web e-commerce Anda akan meningkat secara signifikan dengan menerapkan sistem pertahanan yang kuat ini.

  2. Pilih Data yang Disimpan Dengan Bijak 
    Mengawasi situs web e-commerce memerlukan perhatian khusus, terutama dalam hal manajemen data. Tidak semua informasi yang diterima harus disimpan. Penting untuk membuat keputusan yang tepat tentang data mana yang harus disimpan dan mana yang harus dihindari. Hal ini dilakukan untuk mengurangi potensi ancaman keamanan dan memastikan bahwa sistem hanya menyimpan data yang penting dan aman.

  3. Sarankan Membuat Kata Sandi yang Kuat 
    Sangat penting untuk menggunakan kata sandi yang kuat untuk melindungi akun pelanggan dan karyawan. Angka, karakter unik, dan kombinasi huruf besar dan kecil adalah bagian dari kata sandi yang kuat. Selain itu, setiap individu harus menggunakan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun mereka, sehingga mereka tidak menggunakan kata sandi yang sama di berbagai situs. Menurut penelitian terbaru, sekitar empat puluh hingga lima puluh persen orang masih menggunakan kata sandi yang sama untuk berbagai akun, yang meningkatkan kemungkinan peretasan data akuN. Untuk mengatasi masalah ini, pengelola kata sandi adalah alat yang bagus karena memungkinkan penyimpanan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap platform yang digunakan.

  4. Mengintegrasikan gateway pembayaran seperti Stripe atau PayPal
    Untuk situs e-commerce, sangat disarankan untuk menggunakan gateway pembayaran seperti Stripe atau PayPal. Dengan menggunakan layanan yang dapat diandalkan ini, Anda memungkinkan pelanggan melakukan transaksi secara mandiri, alih-alih menangani dan menyimpan informasi keuangan mereka secara langsung. Karena penyedia pembayaran menjaga informasi keuangan Anda aman, situs web Anda tidak rentan terhadap serangan hacker. 

  5. Meningkatkan Situs Dengan Sertifikat HTTPS dan SSL
    Selain itu, meningkatkan keamanan dan SEO situs Anda dengan sertifikat HTTPS dan SSL akan membantu meningkatkan peringkat Google karena mesin pencari lebih mengutamakan situs yang aman. HTTPS memastikan transfer data yang aman antara pengguna dan situs Anda, melindungi informasi pelanggan dari potensi ancaman. Sertifikat SSL yang diberikan oleh layanan hosting Anda lebih lanjut memastikan bahwa pengguna penting tidak diblokir saat mengakses situs Anda.

  6. Waspadai potensi serangan Cross-Site Scripting (XSS)
    Untuk menghindari serangan cross-site scripting (XSS), selalu bersihkan input pengguna. Menghapus kode atau elemen tambahan yang mungkin telah ditinggalkan oleh administrator atau pihak ketiga yang sebelumnya mengelola situs Anda adalah salah satu contohnya. Selain itu, pastikan data yang dikirim pengguna divalidasi untuk memastikan bahwa itu dalam format yang benar dan mengikuti pola yang telah ditentukan. Langkah-langkah ini sangat penting untuk mencegah skrip berbahaya masuk ke situs Anda, yang dapat merusak data pengguna atau memungkinkan serangan siber yang merugikan.

  7. Pastikan untuk Secara Rutin Memperbarui dan Memasang Pembaruan sistem
    Pastikan untuk secara teratur memasang dan memperbarui pembaruan sistem. Untuk menghindari kemungkinan kerusakan, menginstal patch keamanan dan memperbarui perangkat lunak secara teratur sangat penting. Ini memperkuat sistem untuk melawan ancaman baru dan mencegah penyerang memanfaatkan celah yang ada untuk mendapatkan informasi pribadi seperti data kartu kredit pelanggan. Dengan menggunakan langkah-langkah ini, Anda dapat memastikan bahwa situs web atau aplikasi tetap aman dan terlindungi.

  8. Gunakan Perangkat Lunak Anti Malware
    Perangkat lunak anti-malware adalah program yang dimaksudkan untuk mendeteksi, menghapus, dan mencegah perangkat lunak berbahaya (malware) menginfeksi komputer dan sistem TI. Malware sendiri mencakup berbagai jenis infeksi, seperti worm, virus, dan Trojan. Dengan menggunakan perangkat lunak anti-malware yang efektif, Anda dapat melindungi sistem Anda dari serangan ini. 
    Di sisi lain, perangkat lunak anti-virus berkonsentrasi pada mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus. Sebagian besar perangkat lunak anti-virus mampu menangkal jenis malware lain, tetapi mereka tetap memiliki peran utama dalam melindungi sistem dari infeksi virus. Menggunakan perangkat lunak anti-virus yang terpercaya untuk melindungi PC dan perangkat terkait lainnya akan mengurangi risiko terkena serangan malware.